Langsung ke konten utama

Postingan

ARI-ARI: ANTARA SUBJEK YANG BERTEMU IBU DAN SUBJEK YANG AKHIRNYA BERBAHASA

Oleh Taufik Darwis Arifin dan Teaternya: suatu organisme radikal yang berproses             Arifin C. Noer, bersama Rendra dan Putu Wijaya dikenal sebagai generasi ‘ketiga’ dari para insan teater nasionalis setelah generasi teater Era Pembangunan Bangsa  dan teater Peralihan ke Realisme: ‘kewargaduniaan’ Usmar Ismail-Asrul Sani di ATNI, LEKRA dan STB Bandung (awal)-Studi Grup Drama Djokja. Generasi ‘ketiga’ yang menjelang paruh 1990-an ini d ianggap  mempunyai pandangan lebih jauh (eksperimental) terhadap teater daerah tradisional (Bondden, 1999: 911-929 ). [1] Pandangan ekperimental tersebut  tidak lain karena penolakannya terhadap nativisme kultural Orde Baru (Taman Mini Indonesia Indah) dan terhadap ‘realisme’ yang dipercayai tidak akan membentuk sebuah jenis ‘teater-seni’ baru, tapi malah akan mempertahankan sebuah ortodoksi universalisme Barat dalam seni teater. Ortodoksi itu dilembagakan dan dip...

MASYARAKAT ADALAH BAHASA*

* LOGIKA DEMOKRASI PLURAL-RADIKAL (1) oleh Taufik Darwis Disiapkan dengan maksud untuk menghidupkan lagi teori sosial-politik yang bercorak kiri: Marxist. Karena masyarkat kita sudah de facto dikuasasi teori sosial, neoliberal,  sampai itapun sudah kehilangan bahasa untuk membicarakannya. Teori kritis yang ortodok sudah tidak memadai lagi. Sistem yang ada sekarang membuat orang tidak punya harapan lagi bahwa hidupnya lebih enak dan gampang, karena himpitanya semakin pelik dan semakin perkasa. Maka, mau tidak mau, kita harus mendefinisikan musuh kita itu siapa. Lewat mengidentifikasi, menerima  kontradiksi yang tidk bisa dihilangkan. Laclau-Moufe pertama-tama bertolak dari: Hegemoni, Wacana, dan Dekonstruksi . Tapi dikritik oleh muridmuridnya lewat teori psikoanalisa. Menggunakan teori hegemoni sebagai logika demokrasi radikal adalah membayangkan masyarakat yang dipersatukan secara hegemonik, berhubungan secara ideologis sebagai masyarakat yang sehat. Teori Bah...

MANFAAT NEGASI DALAM IDEOLOGI (catatan-coretan)

Negasi adalah strategi orang ngomong,  Apa manfaatnya negasi dalam kaitannya dengan pemahaman ideologi? Kita selalu    k hawatir ketika dihadapan ideologi kita tidak otentik .  Negasi bisa  dieksplor faedahnya untuk menghadapi ideologi, (bisa dipraktekan: strategi menghadapi ideologi).  Untuk dikaitkan dengan macam-macam posisi subjek dalam psikoanalisa, ada yang neurosis, psikosis, preversi, yang punya cara sendiri dalam mengatakan kebenaran. Ada orang yang selalu mengatakan sesuatu hampir selalu yang negatif. Kenapa? Mencari aman. Pura-pura mengatakan tidak supaya menunjukan yang iya.  Ada pura iya, ada pura-pura tidak, ini ada dua jenis subjek. -             Gagasan negasi dalam Lacan, pertama-tama dipake dalam misrecognition , ada dua hal yang terjadi bersama-sama: afirmasi dan negasi. Mengafirmasi menemukan dirinya dan mengatakan itu bukan dirinya (hanya bayangan). Ini adalah Split dalam tataran im...

KRITIK BOUCHER ATAS TEORI IDEOLOGI ŽIŽEK (tulisan bersambung)

Di sini Boucher menjelskan  3 momen di dalam pemikiran  ŽIŽEK yaitu, HEGEL (SUBJEK OBKEK TIDAK BERSATU) , LACAN (TIDAK BISA BERSATU),  POSTMARXIS.  Žižek    mengatakan Ssubjek objek bisa bersatu di fase real, maka dari itu Boucher berpendapat  bahwa   Žižek   bukan Lacanian, tapi Hegelian.  Sementara itu Boucher berpendapat sesuai Graph of Desire Lacanian, bahwa meskipun level libidinal dan meaning  berhubungan, tetapi bisa dan perlu dipisahkan ketika kita menganalisa. Selanjutnya, BOUCHER BERPENDAPAT, TULISAN ORANG POSTRUKTURALIS YANG DIPEROLEH ALTHUSSER, ITU CUMA FOKUS KELEVEL MEANING. ESAI, KRITIK, atau tulisan yang MASIH PAKAI BERSUMBER DARI ALHUSER ITU MASIH PAKE LEVEL MEANING. ENJOYMENT: TIDAK. Bagiamana yang dikritik Boucher terhdap Laclau-Moufe? pemikiran LM tentang teori ideologinya, yang mengatakan bahwa wacana itu multiple , terpencar. LM menurut Boucher memfokuskan diri pada level ma...

RUMAH YANG KEHILANGAN CERITA DARI FESTIVAL DRAMA PELAJAR 2012 DI SEMARANG

Oleh Afrizal Malna Sebuah pertunjukan teater, setelah layar ditutup dan penonton pulang, akhirnya tidak perduli: apakah pertunjukan itu dimainkan seorang pelajar, pengangguran, atau aktor yang sudah tua. Penonton hanya meminta sebuah pertunjukan yang dilakukan sungguh-sungguh. Tidak perlu minta maaf, karena persiapan yang kurang, pintu yang dipaku tidak rapi, atau tetek-bengek lainnya yang tidak tertangani; tidak dapat izin dari sekolah atau dari orang tua. Teater lahir, hanya karena kamu bisa berdiri, melihat, berbicara, bergerak dan diam; bisa bercermin, membuat bayangan, imajinasi dan ilusi. Dan penonton akan membawa ilusi itu ke dunia mereka masing-masing. Menyimpannya sebagai kisah yang mungkin akan diceritakannya kembali kepada sahabat-sahabat mereka, ketika pertunjukan itu berhasil tinggal lebih lama lagi dalam kenangan mereka. Teater membuat seseorang mulai berkenalan dari bagaimana cara menggergaji, memaku sebilah papan, menjahit, memerankan seseorang, menyamp...