Langsung ke konten utama

pengalaman adalah rumah bagi benda dan tubuh [esai posthaste, teater payung hitam]




Teater Payung Hitam (TPH) diundang Komite Teater-Dewan Kesenian Jakarta untuk mementaskan “Posthaste” di Graha Bakti Budaya (GBB) pada tanggal 17-18 Mei 2017 sebagai pertunjukan pembuka rangkaian program Djakarta Teater Platform. Sesuai di buku acara, Djakarta Teater Platform adalah sebuah laboratorium bersama untuk melakukan kurasi di dataran gagasan, bukan di dataran karya, bagaimana teater “dipertaruhkan” dalam medan politik budaya di sekitarnya.

Baca selengkapnya:
kumpulan esai Posthaste

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pentas CANNIBALOGY: Refleksi Titik Nadir Sebuah Peradaban (Khazanah_Pikiran Rakyat_7_Agustus_2011)

 09 Agustus 2011  teks BenJon,  sutradara Taufik Darwis Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, 22 Juni 201, pukul 19.30 WIb Teater Gema PGRI IKIP Semarang, 24 Juni 2011, pukul 19.30 WIb G.K Sunan AMbu STSI Bandung, 21 Juli 2011, pukul 19.30 WIb oleh F. X. Widaryanto Hampir setengah abad yang lalu peristiwa pembunuhan massal yang terstruktur pernah terjadi. Pada tahun 90-an, Suharto sebagai RI-1 kala itu mendapat julukan tak sedap sebagai seorang diktator yang kejam. Demi kekuasaan yang didambakannya, ia tidak menghalangi pemusnahan sebagian anak bangsa yang terlibat pada pemberontakan G 30 S yang disandang oleh pengikut Partai Komunis Indonesia atau PKI. Lepas dari peristiwa yang kemudian menjadi rekayasa sejarah yang tak keruan juntrungnya, Benny Yohanes menuliskan naskah yang menarik yang diberi tajuk Cannibalogy. Ia mencoba menjejerkan tokoh Suman[to] dan Suhar[to] dalam sebuah laku yang tak pelak merupakan homo homini lopus 'manusia menjadi serigala bagi se...

RUMAH YANG KEHILANGAN CERITA DARI FESTIVAL DRAMA PELAJAR 2012 DI SEMARANG

Oleh Afrizal Malna Sebuah pertunjukan teater, setelah layar ditutup dan penonton pulang, akhirnya tidak perduli: apakah pertunjukan itu dimainkan seorang pelajar, pengangguran, atau aktor yang sudah tua. Penonton hanya meminta sebuah pertunjukan yang dilakukan sungguh-sungguh. Tidak perlu minta maaf, karena persiapan yang kurang, pintu yang dipaku tidak rapi, atau tetek-bengek lainnya yang tidak tertangani; tidak dapat izin dari sekolah atau dari orang tua. Teater lahir, hanya karena kamu bisa berdiri, melihat, berbicara, bergerak dan diam; bisa bercermin, membuat bayangan, imajinasi dan ilusi. Dan penonton akan membawa ilusi itu ke dunia mereka masing-masing. Menyimpannya sebagai kisah yang mungkin akan diceritakannya kembali kepada sahabat-sahabat mereka, ketika pertunjukan itu berhasil tinggal lebih lama lagi dalam kenangan mereka. Teater membuat seseorang mulai berkenalan dari bagaimana cara menggergaji, memaku sebilah papan, menjahit, memerankan seseorang, menyamp...

MENCARI TEATER VERSI ASRUL SANI* (2)

Oleh Taufik Darwis TEATER YANG LAHIR DARI KE-WARGA-DUNIA-AN ASRUL? Coba saja pikir, ketika itu kedaulatan Negara baru saja didapatkan setelah sekian lama perjuangan berdarah dan diplomasi dijalankan. Belum sampai bernafas lega, tiba-tiba Negara yang masih sangat muda ini menghadapi sekian banyak masalah politik, ekonomi, dan sosial. Di saat seperti itu tiba-tiba pula Asrul tampil dengan sebuah pernyataan yang dengan lantang menggugah kesadaran dan orientasi kultural. Baru saja sebuah batas perjalanan sejarah bangsa berhasil didirikan dengan darah dan air mata, ia tampil dengan pernyataan kultural yang terasa seperti merelatifkan batas itu – “Kami adalah ahli waris yang sah kebudayaan dunia dan kebudayan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri”.  Mengapa tidak mengatakan “ahli waris kebudayaan nenek moyang?” bukankah ini bikin perkara namanya? (Abdulah, 1997: xiv)             Kalimat tersebut sengaja saya kut...