Langsung ke konten utama

bekerja dengan ruang [pembacaan pilih-pilih pada Body Out]



Lagi-lagi saya mencoba menuliskan performance art. Sebuah pekerjaan yang kemungkian besar bisa tidak saya selesaikan dengan beberapa alasan-alasan yang saya benci. Pertama,  saya adalah orang yang tidak terlalu mendalami sejarah dan diskursus performance art. Kedua, saya  malah kerap skeptis pada beberapa praktiknya, ini bisa disebabkan oleh pengalaman dulu ketika saya melihat performance art disekitar saya yang cenderung mengagresi diri dan lingkungannya  atau bahkan sama sekali tidak memberikan ruang makna. Ketiga, meskipun bisa dibilang saya tidak jarang menyaksikan praktik performance art, kontruksi pengetahuan seni pertunjukan yang sedang saya bangun bisa sangat gampang meniadakan performance art, dengan alasan yang gampang seperti perbandingan kuantitas durasi dalam proses pengerjaan yang dianggap menentukan kualitas karya. Tapi bagaimanapun saya harus meyelesaikannya, sebab kalau tidak kata-kata menakutkan sang antagonis Viggo di dalam film John Wick menjadi aktual: “…kau benar-benar membuat orang-orang marah. Manusia tidak berubah, kau tahu itu. Hanya waktu yang berubah…kehidupan ini mengikutimu. Menempel padamu.”


baca selengkapnya:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

pentas CANNIBALOGY: Refleksi Titik Nadir Sebuah Peradaban (Khazanah_Pikiran Rakyat_7_Agustus_2011)

 09 Agustus 2011  teks BenJon,  sutradara Taufik Darwis Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, 22 Juni 201, pukul 19.30 WIb Teater Gema PGRI IKIP Semarang, 24 Juni 2011, pukul 19.30 WIb G.K Sunan AMbu STSI Bandung, 21 Juli 2011, pukul 19.30 WIb oleh F. X. Widaryanto Hampir setengah abad yang lalu peristiwa pembunuhan massal yang terstruktur pernah terjadi. Pada tahun 90-an, Suharto sebagai RI-1 kala itu mendapat julukan tak sedap sebagai seorang diktator yang kejam. Demi kekuasaan yang didambakannya, ia tidak menghalangi pemusnahan sebagian anak bangsa yang terlibat pada pemberontakan G 30 S yang disandang oleh pengikut Partai Komunis Indonesia atau PKI. Lepas dari peristiwa yang kemudian menjadi rekayasa sejarah yang tak keruan juntrungnya, Benny Yohanes menuliskan naskah yang menarik yang diberi tajuk Cannibalogy. Ia mencoba menjejerkan tokoh Suman[to] dan Suhar[to] dalam sebuah laku yang tak pelak merupakan homo homini lopus 'manusia menjadi serigala bagi se...

RUMAH YANG KEHILANGAN CERITA DARI FESTIVAL DRAMA PELAJAR 2012 DI SEMARANG

Oleh Afrizal Malna Sebuah pertunjukan teater, setelah layar ditutup dan penonton pulang, akhirnya tidak perduli: apakah pertunjukan itu dimainkan seorang pelajar, pengangguran, atau aktor yang sudah tua. Penonton hanya meminta sebuah pertunjukan yang dilakukan sungguh-sungguh. Tidak perlu minta maaf, karena persiapan yang kurang, pintu yang dipaku tidak rapi, atau tetek-bengek lainnya yang tidak tertangani; tidak dapat izin dari sekolah atau dari orang tua. Teater lahir, hanya karena kamu bisa berdiri, melihat, berbicara, bergerak dan diam; bisa bercermin, membuat bayangan, imajinasi dan ilusi. Dan penonton akan membawa ilusi itu ke dunia mereka masing-masing. Menyimpannya sebagai kisah yang mungkin akan diceritakannya kembali kepada sahabat-sahabat mereka, ketika pertunjukan itu berhasil tinggal lebih lama lagi dalam kenangan mereka. Teater membuat seseorang mulai berkenalan dari bagaimana cara menggergaji, memaku sebilah papan, menjahit, memerankan seseorang, menyamp...

“TEATER JAKARTA MENJADI TERBELAKANG”

Laporan Taufik Darwis dari obrolan dengan Diding Boneng dan Afrizal Malna di  sela-sela penyelenggaraan 40 tahun FTJ   Diding Boneng, aktivis  teater  Jakarta yang masih aktif sejak  tahun 70-an  (Teater Rama) sampai sekarang  (di Teater Popcorn) mengatakan bahwa Festival Teater Jakarta dibuat untuk menyeleksi pertunjukan teater yang layak disubsidi oleh Taman Ismail Marzuki (TIM) agar yang pentas di TIM tidak sembarang kelompok. Maka dari konsep itu lahirlah istilah ‘’kelompok senior’’ sebagai pemenang dari festival tersebut. Boneng juga mengatakan bahwa sebelum terjadi perombakan tata ruang TIM, FTJ menyediakan Gedung dengan format arena karena memang tersedia. 80% pertunjukannya dipentaskan di gedung arena, karena menurutnya itulah  panggung kita sebaga orang Timur yang dekat dengan penontonnya.  Maka ketika TIM menghilangkan gedung arena di dalam kompleknya sebenarn...